Kalau lagi galau begini ya inilah yang bakal jadi pelarian..

Nulis, nulis, nulis.. Menulisnya karena tak dapat mengungkapnya.

#Lalu? -___-”

Dingin–hujan, gelap–mati lampu,

Sama halnya dengan dingin dan gelapnya hatiku.. #halah

Saat-saat galau yang mencekam datang, biasanya aku lebih memaksa fisikku untuk bekerja ekstra keras. Jika aku hanya berdiam diri, pikiranku yang akan mengambil alih kerja.. Padahal tentang apa yang kupikirkan saja aku tidak paham. Jadi ya, kacau.. Ngomong jadi ngelantur kemana-mana. Diajak ngobrol nyambungnya ke arah yang nggak jelas..

Kata bundo: “Telusuri penyebab galau dan cari solusinya dongg!”

Tapi masalahnya, udah ditelusuri kemana-kemana tetep aja nggak ketemu, terus gimana dong?

Dan seperti kata Bundo juga, “Kamu itu sebenernya udah nemu penyebabnya, tapi belum mau mengaku dan menerima. Harusnya kamu menerima bahwa hatimu sedang terluka. Nikmati luka itu, kalau kamu masih bisa merasakan luka itu, berarti kamu masih normal, masih hidup kan. Namanya juga hidup. Hidup itu berputar, jadi bersabarlah dan berusahalah untuk memutarnya menuju yang lebih baik. Galau itu biasa. Udah nggak jaman lagi orang galau diheboh-hebohkan. Soal masalah, masalah itu ya memang dimana-mana ada. hidup itu sama dengan masalah. Kalau nggak mau ketemu sama masalah ya mati aja. Sekarang yang penting itu bukan bagaimana dan dari mana serta mengapa masalah itu muncul, tapi bagaimana kamu menyikapinya. Sikapi dengan baik, maka masalah itu pun akan bersikap baik. Sikapi dengan bijak, maka masalah itu pun akan bersikap bijak”

Oh gitu ya bund,pengalaman ya.? xaxaxa 😀

tapi kalo kata ayah, “Galau itu nggak penting dan buang-buang waktu, tenaga, serta pikiran. Lebih baik melakukan hal lain yang lebih bermanfaat dong.”

Jadi?

#belumpahamjuga?kelautajadehh

 

 

 

 

Iklan